Ada yang aneh dengan negeri ini, dimana kasta orang lajang/single/jomblo itu dianggap lebih rendah dari mereka yang berpasangan. Jomblo itu bukan berarti enggak laku, siapa tahu memang sedang tidak ingin terlibat dengan drama berlebih, siapa tahu memang sedang berambisi mengejar mimpi tanpa terdistorsi harus berkewajiban untuk mengabari. Bukankan punya pasangan juga enggak jaminan untuk seseorang menjadi bahagia? Aku selalu percaya bahwa berkomitmen itu masalah ketetapan dan ketepatan. Kalau tidak ingin menetap dan belum ketemu yang tepat, boleh dipaksakan? Jadi, nikmati saat sendiri, kejar cita - cita, luangkan waktu dengan keluarga dan sahabat, dan berkomitmenlah saat sudah ada kesiapan, bukan hanya karena alasan kesepian. Tidak perlu gundah, hidup ini indah apabila kita menganggapnya indah. Dan jika saatnya tiba untuk berpasangan, bersyukurlah dan berhentilah menganggap yang jomblo itu kastanya lebih rendah. :p

Ada yang aneh dengan negeri ini, dimana kasta orang lajang/single/jomblo itu dianggap lebih rendah dari mereka yang berpasangan. Jomblo itu bukan berarti enggak laku, siapa tahu memang sedang tidak ingin terlibat dengan drama berlebih, siapa tahu memang sedang berambisi mengejar mimpi tanpa terdistorsi harus berkewajiban untuk mengabari. Bukankan punya pasangan juga enggak jaminan untuk seseorang menjadi bahagia? Aku selalu percaya bahwa berkomitmen itu masalah ketetapan dan ketepatan. Kalau tidak ingin menetap dan belum ketemu yang tepat, boleh dipaksakan? Jadi, nikmati saat sendiri, kejar cita - cita, luangkan waktu dengan keluarga dan sahabat, dan berkomitmenlah saat sudah ada kesiapan, bukan hanya karena alasan kesepian. Tidak perlu gundah, hidup ini indah apabila kita menganggapnya indah. Dan jika saatnya tiba untuk berpasangan, bersyukurlah dan berhentilah menganggap yang jomblo itu kastanya lebih rendah. :p

25 Desember

Dalam kata “dilarang mengucapkan selamat natal” sebenarnya ada kata “selamat natal”. Dalam kata “mengucapkan selamat natal itu haram” sebenarnya juga ada kata “selamat natal”. Bahasa, barangkali telah membuat banyak perbedaan dan perpecahan. Tapi manusia adalah makhluk yang menciptakan dan merekayasa bahasa, maka jangan takluk dan tunduk padanya. Barangkali tak perlu bahasa, untuk mengucapkan selamat natal. Barangkali tak perlu fatwa atau apapun saja.

Kita melihat pohon-pohon natal, berlampu, berkilauan di jalan-jalan… dan tersenyum. Kita menikmati diskon-diskon natal di berbagai pusat perbelanjaan… dan turut menikmatinya dengan berbahagia. Kita mendengarkan lagu-lagu natal diputar di mana-mana… dan tak keberatan. Kita menikmati film-film spesial natal di bioskop-bioskop yang kita datangi… dan terhibur. Sama saja, kan? Di hari-hari Ramadhan dan lebaran, umat Kristen juga menikmati lagi-lagu Ramadhan, menikmati diskon besar-besaran menjelang lebaran. Barangkali toleransi yang sesungguhnya tak perlu memerlukan kemasan apa-apa, kadang-kadang termasuk tak memerlukan bahasa apalagi fatwa. Toleransi adalah cara untuk bersama-sama merayakan kebahagiaan.

Selanjutnya, menurut saya, bahasa adalah pilihan. Orang boleh memilih untuk mengucapkan selamat natal, tidak mengucapkan selamat natal, atau tidak memilih keduanya dengan diam atau tersenyum. Semua pilihan punya pertimbangan dan konsekuensinya masing-masing, dan kitalah yang bertanggung jawab pada pilihan kita sendiri. Tentang Selamat Natal, saya memilih mengucapkannya:

"Selamat natal buat teman-teman saya yang merayakannya. Semoga kalian selalu berada dalam kedamaian dan kebahagiaan."

Bagaimana rasanya mengucapkannya? Sejujurnya, saya merasa bahagia. Saya sama sekali tak khawatir dengan akidah saya. Lagipula, mengucapkan “selamat natal” sebagai bentuk penghormatan, tak ada hubungannya dengan akidah, kan? Saya merayakan akidah di atas kaki keyakinan yang kuat, mudah-mudahan. Tapi jelas sekali kuda-kuda akidah saya tak akan seketika runtuh dengan kata-kata… dengan bahasa.

Kita dilahirkan tak terbatas, seperti semesta, tetapi masyarakat telah mengajari dan membuat kita menjadi terbatas. Saya ingin selalu melepaskan diri dari kekang-kekang yang membuat hidup jadi murung… saya ingin selalu menari di tengah-tengah semesta indah yang membuat saya memiliki pikiran terbuka, perasaan yang lapang, jiwa yang bebas, dan hidup yang lebih membahagiakan.

Mungkin kita berbeda, tapi mari kita berbahagia. Mari rayakan apa saja hari ini. Itu saja.